Kamipulang dengan wajah sangat bahagia. Aku buka ritsluitingnya, kudorongsedikit duduknya sehingga posisinya agak kupangku, kumasukkan tangan kiriku kedalam celananya, kumainkan jariku sedapat-dapatnya. Bokeb Kamiberpandangan, lalu berpelukan.Setelah gerimis agak reda, waktu telah menunjukkan pukul lima seperempat. Kulepaskan pelukanku, kumundur beberapa langkah ke belakang dankulihat bagian belakang kaosnya berwarna merah.“Ndhuk..”, aku memanggilnya dan memberi tanda dengan mataku ke arah bagianbawah kaosnya. Saat kebetulan sampai di sana Enno memang baru menungguku. Kulepaskan pelukanku, kumundur beberapa langkah ke belakang dankulihat bagian belakang kaosnya berwarna merah.“Ndhuk..”, aku memanggilnya dan memberi tanda dengan mataku ke arah bagianbawah kaosnya. Kumainkan kedua putingnya bergantian, kugosok sejadi-jadinya hinggawajahnya merah merasakan kekasaranku.Desahan-desahannya sudah tak kuhiraukan lagi. Motor tetap kupacu sekitar 40Km/jam, kendaraan banyak berseliweran tapi kami sudah tak peduli. Susah, sempit dan erangan perih terdengar lirih di antara erangankenikmatannya. Kami terdiam, menatap pemandangan basah disekitar kami.




















