Aku membuka mataku. Dia mendesis. Bokep SMA Rongga itu seperti tidak berujung. Sialan. Aku tetap berkeras. Jariku masuk lebih ke dalam. Sangat keras. 4 hari lagi, aku akan menikahi Mei, kekasihku selama 6 tahun. Seperti menghayati sesuatu. Tapi bukan itu alasannya. Tapi kepepet sih, harus cari upa (”cari nasi”) di Jakarta.Tak lama kemudian bis itu datang juga. Aku kembali mengelus dadanya. Semua orang tampaknya sudah terlelap. Asap bus benar-benar menyesakkan. Merasakan bentuknya. Dia terengah-engah. Hhhm, sungguh mulus. Putingnya runcing, ukurannya luar biasa, sepanjang buku jari telunjukku. Benar-benar mulus. Tidak berasa memang. Aku terus menggerakkan jariku. Dapat.Jelas, ini sutra. Dia menahan tanganku.“Jangan … ”Aku nekat.“Jangan …” Ok. Aku bergegas naik. Hari berangsur gelap.“Pengumuman, bapak ibu. Aku tersenyum kembali.




















